Kamis, 04 September 2014

Kenaikan harga nikel menopang prospek INCO

|0 komentar
JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) kini tengah menikmati kenaikan harga nikel. Hingga 9 Juli, harga nikel sudah melonjak 40,47% secara year to date (ytd) ke US$ 19.525 per ton. Harga nikel pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) secara rata-rata mencapai US$ 16.696,32 per ton. Harga rata-rata tersebut naik 10,66% dari harga rata-rata tahun lalu US$ 15.088,32 per ton. Stefanus Darmagiri, analis Danareksa Sekuritas dalam riset tanggal 22 Mei 2014 mengatakan, harga nikel yang tinggi bisa meningkatkan margin laba dan laba pada kuartal II-2014. Wilim Hadiwijaya, analis Ciptadana Securities mengatakan, kenaikan harga nikel merupakan katalis positif bagi kinerja INCO tahun ini. Namun, dampak kenaikan ini baru bisa dirasakan INCO di kuartal II-2014. Wilim bilang, harga rata-rata nikel murni INCO tahun ini akan menyentuh US$ 17.500 per ton. "Untuk harga nikel in matte 85% dari harga murni," ujar Wilim. Ini artinya harga nikel in matte bisa di US$ 14.875 per ton. Sementara itu, Stefanus memproyeksikan, harga nikel in matte bisa di kisaran US$ 13.400 per ton. Apalagi dengan adanya, larangan ekspor produk tambang mentah oleh pemerintah Indonesia. Wilim bilang, meski produsen sekaligus konsumen tertinggi nikel adalah China. Tapi, importir terbesar dari bijih nikel Indonesia juga China. Maka dari itu jika suplai dari Indonesia terhambat, maka harga nikel bisa naik. Selain itu, adanya krisis di Rusia dan Ukraina juga ikut mendorong harga nikel. Pasalnya, Rusia juga produsen nikel terbesar di dunia. Analis JP Morgan, Daniel Kang dalam riset 3 Juni 2014 menambahkan, kenaikan harga nikel masih bisa terjadi, pasalnya persediaan nikel ke depan bisa menurun. "Sekarang persediaan nikel masih banyak, tapi di kuartal III-2014, persediaan nikel akan cenderung turun," ujar dia. Dia menambahkan, persediaan nikel China akan menurun sekitar Juli-September. Padahal, permintaan nikel masih tumbuh 3%-4%. Efisiensi biaya Meski dari sisi harga masih positif. Stefanus menilai, tantangan INCO tahun ini adalah efisiensi biaya. INCO memang telah berhasil menurunkan biaya produksi 17% year-on-year menjadi US$ 9.012 per ton pada kuartal I-2014. Ini karena penggunaan High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan dioperasikannya Coal Convertion Project (CCP1) untuk pengering sejak kuartal IV tahun lalu. Tapi itu belum berefek pada kinerja INCO di kuartal I-2014. Pendapatan INCO turun 17,53% menjadi US$ 213,11 juta. Sedangkan laba bersih INCO turun 43% menjadi US$ 17,96 juta. Akibatnya margin laba bersih INCO turun. Meski demikian, Stefanus yakin, dengan kenaikan harga bisa meningkatkan pendapatan INCO 14,97% menjadi US$ 1,06 miliar dari US$ 922 juta. Sementara laba bersih US$ 139 juta, melonjak 256% dari US$ 39 juta. Wilim berharap, pendapatan INCO US$ 1,09 miliar dengan laba bersih US$ 177 juta. Stefanus dan Wilim merekomendasikan, buy di Rp 4.500 dan Rp 4.270. Sementara itu, analis RHB Research Institute, Willinoy Sitorus merekomendasikan neutral di Rp 3.500. Kamis (10/7) harga INCO naik 0,95% ke Rp 3.705.       Editor: Avanty Nurdiana http://investasi.kontan.co.id/

Senin, 02 Juni 2014

"Potensi Besar Agribisnis Aren"

|0 komentar
Potensi Besar Agribisnis Aren Dibawah ini adalah artikel yang saya dapat dari internet. Kalau kita perhatikan penjelasan dari Bp. Bungaran S. harga nira di Tomohon Rp. 2.000 perliter, 1 pohon menghasilkan minimal 10 lt/hari, 1 ha bs 150 pohon berarti hasil perhari 150x10x2.000 = Rp. 3.000.000 perhari. Luar biasa kan!. Ayo rekan2 kita sharing tentang ini. Potensi Besar Agribisnis Aren Selain gula dan etanol, apa saja kegunaan aren yang lain dan seberapa besar terdapat di Indonesia? Aren dengan nama ilmiah Arenga pinnata sudah sejak lama dikenal para petani kita sebagai tanaman bernilai ekonomis. Namun hingga kini masukan ilmu dan teknologi pada aren masih sangat minimum. Berbeda dengan kelapa dan kelapa sawit, tanaman sefamili aren. Jumlahnya secara pasti belum diketahui tapi diyakini potensi aren di Indonesia luar biasa besar yang tersebar mulai dari daerah pantai sampai ke pegunungan. Agribisnis berbasis aren menghasilkan produk utama gula merah atau gula kristal yang bisa menjadi sumber gula alternatif sehingga kita tidak pusing dengan impor gula lagi. Dan nira aren dapat diolah menjadi etanol, sumber energi yang bisa diperbarui. Selain menghasilkan gula dan etanol, pohon aren juga bisa memproduksi lidi, ijuk, daun untuk atap rumah, dan kayu dengan kualitas sangat baik. Dari aren juga bisa dihasilkan makanan enak, yaitu kolang kaling. Bagaimana potensinya untuk dikembangkan? Sekarang baru disadari aren mempunyai potensi yang luar biasa besarnya dari segi ekonomi, pemerataan pendapatan, dan penanggulangan kemiskinan, serta pelestarian lingkungan. Dari segi ekonomi, aren melalui suatu proses sangat sederhana menghasilkan nira sebagai produk utama yang bisa diproses jadi gula merah sebagai pengganti gula putih dan etanol yang sangat penting untuk energi. Dari segi pemerataan pendapatan, aren diusahakan petani-petani kecil dan kebanyakan masih belum dibudidayakan dan tumbuh liar di hutan-hutan sekitar pemukiman. Karena itu produk-produk ekonomis tadi dimanfaatkan rakyat yang berpenghasilan rendah. Jadi aren ini dapat dijadikan program penanggulangan pengangguran dan kemiskinan di pedesaan. Dari segi kelestarian lingkungan, aren tumbuh subur bersama-sama pohon lain. Oleh karena itu, aren mampu menciptakan ekologi yang baik sehingga tercipta keseimbangan biologi. Di samping itu, karena dia tumbuh bersama-sama pohon lain dapat menjadi penahan air yang baik dan aren relatif sulit untuk terbakar. Berbeda dengan kelapa sawit dan kelapa yang membutuhkan kondisi monokultur. Apa kelebihan aren dibanding dengan tebu? Aren jauh lebih produktif dari tanaman tebu dalam menghasilkan kristal gula dan biofuel per satuan luas. Produktivitasnya bisa 4-8 kali dibandingkan tebu. Dan rendemen gulanya 12%, sedangkan tebu rata-rata hanya 7%. Gula aren dinilai baik dan dapat dijadikan gula kristal yang dapat diekspor. Harga ekspornya Rp50.000/kg dan di tingkat konsumen di Belanda Rp90.000/kg, bandingkan harga gula pasir sekitar Rp7.000/kg. Dari gula aren itu juga bisa didapatkan 30% berupa molase untuk membuat etanol bahan biofuel. Yang menarik, tanaman aren tidak membutuhkan pemupukan untuk tumbuh, tidak terserang hama dan penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman bagi lingkungan. Bahkan boleh dikatakan produknya organik. Aren dapat tumbuh pada lahan marginal di lereng gunung atau berbukit-bukit bersama tanaman lain. Sedangkan tebu harus ditanam di lahan subur yang datar sehingga dalam penggunaan lahan bersaing dengan tanaman lain seperti padi dan jagung. Apa yang menjadi masalah dalam pengembangannya? Masalah pengembangannya adalah pengetahuan kita mengenai aren sangat minim dibandingkan kelapa sawit, kelapa, dan tebu. Kalau kita mau mengembangkan dalam skala regional dan nasional, pengetahuan tentang aren harus ditambah. Pengetahuan yang mendesak adalah mengenai seleksi tanaman yang mempunyai produktivitas tinggi dan cara perbanyakannya. Kedua, pengetahuan mengenai proses panen yang efisien dan efektif. Ketiga, transportasi nira dari pohon ke pabrik agar tidak rusak. Dan keempat, sistem pengolahan hasil yang modern. Dan tak kalah pentingnya masalah organisasi dan manajemen. Mulai dari organisasi petani, organisasi pabrik, dan organisasi distribusi dari petani ke pabrik, serta manajemen yang mengelola sistem agribisnis berbasis aren tersebut. Apakah sudah ada contoh pengolahan aren dalam skala besar? Ada. Contoh dapat kita di Tomohon, Sulawesi Utara. Pabrik modern yang diusahakan Yayasan Masarang itu sekarang sudah mengolah nira menjadi gula semut berkualitas tinggi untuk ekspor. Pabrik Gula Aren Masarang ini mulai berproduksi sejak 2006. Saat ini produksi rata-rata 3,5 ton gula kristal atau gula semut per hari. Mereka berhubungan dengan petani pemasok nira sebanyak 3.500 orang yang tersebar di 35 desa di Kota Tomohon. Petani menerima harga jual nira Rp2.000/liter. Dan ketika nira telah diolah menjadi gula semut, petani juga memperoleh bagian keuntungan sehingga pabrik dan petani sama-sama beroleh keuntungan. Pabrik gula aren modern pertama di Indonesia bahkan di dunia ini pada Minggu (15/01), lalu baru diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden juga sekaligus melepas ekspor perdana gula aren sebanyak 12,5 ton ke Belanda. Selain Belanda, ekspor juga akan dilakukan ke Swiss dan Jerman. Suatu hal yang menggembirakan, Menko Kesra Aburizal Bakrie akan mereplikasi pabrik gula aren modern ini di sepuluh provinsi pada 2007. Dan investasi untuk pabrik ini tidak terlalu mahal, sekitar US$ 1 juta untuk kapasitas 20 ton gula semut per hari. Harapan saya nanti bank akan melirik usaha ini khususnya membiayai pabrik dan perdagangannya. Sumber : 21 Januari 2008 - Ditulis oleh cedsui | agribisnis